Workshop Dekonstruksi (II)

Bagian II dari Rangkaian Performer Studio 2017
Fasilitator: Yudhi Ahmad Tajudin

Selasa, 18 Juli 2017

Latihan IV:
Semua peserta diajak berjalan ke sebuah tempat yang berjarak kira-kira 700 meter dari studio. Fasilitator memberi cermin kepada setiap peserta. Para peserta kemudian diminta berjalan kembali ke studio (ke posisi terakhir tempat mereka berdiri di studio sebelum fasilitator mengajak keluar) melalui jalan yang berbeda dengan yang dilalui saat datang. Para peserta juga diminta berjalan dengan posisi membelakangi tujuan. Cermin dapat digunakan sebagai alat bantu pengelihatan.

Para peserta sedang mendengarkan arahan tentang Latihan IV dari para fasilitator
Foto: Kurnia Yaumil Fajar-Dokumentasi Teater Garasi



Ada banyak kesan yang disampaikan oleh para peserta dalam kegiatan ini. Ada yang merasa pusing dan beberapa kali kehilangan fokus. Ada yang mengaku sedikit takut, ragu, dan cemas. Ada yang mengaku lebih berhati-hati. Ada yang mengaku aneh dan mengalami pengalaman ketubuhan yang berbeda dari biasanya.

Seperti latihan berjalan dengan mata tertutup, latihan ini pada dasarnya mencoba mengajak para peserta mengatasi ketergantungan akan mata, sekaligus memberikan pengalaman ketubuhan yang berbeda bagi seluruh tubuh dengan mengaktifkan sensor indera lain dan tubuh bagian belakang (yang sekali lagi, sangat jarang diaktifkan). 
Dalam workshop ini juga, Mas Yudhi menjelaskan pengalamannya dalam memahami teater, sekaligus menempatkan posisi teater Garasi (secara visi, teknis, maupun preferensi estetis), dalam sejarah perkembangan teater Indonesia. Menurut Mas Yudhi, dalam kesenian tradisi di Indonesia, khususnya Jawa, maupun dalam lanskap perkembangan teater terdahulu, terdapat pemahaman bahwa kesenian beririsan juga dengan sebuah sikap dan ekspresi spiritual. Praktik-praktik seperti puasa, mati raga, seringkali dijumpai sebagai bagian dari pengolahan hidup para seniman. Hal ini disamping beberapa praktik kesenian tradisi yang memiliki tekanan khusus pada keaktoran, misalnya seorang penari haruslah perempuan yang tidak sedang berada dalam periode menstruasi, atau seorang wanita yang tidak lagi bermenstruasi. Atau, seorang seniman haruslah pantang berhubungan seksual dalam jangka waktu tertentu sebelum sebuah pertunjukan dilakukan. Dalam perkembangan teater di Indonesia, praktik-praktik sejenis ini (puasa, matiraga) pun biasa dilakukan oleh beberapa seniman, atau sekurang-kurangnya dianjurkan dilakukan sebelum sebuah pertunjukan. Secara lebih rasional, praktik-praktik dalam kesenian tradisi ini menimbulkan resistensi, jika tidak dijelaskan alasannya. 

Dalam kajian dan analisis lebih lanjut, praktik-praktik dan latihan-latihan dasar seperti ini sebenarnya memiliki alasan yang dapat dijelaskan secara lebih rasional (meskipun tidak dapat disangkal sekaligus diterima begitu saja bahwa ada aspek keyakinan, yang sifatnya lebih personal dan spiritual). Praktik-praktik seperti ini sebenarnya menciptakan kondisi tertentu bagi pengalaman ketubuhan seseorang, dan menghadirkan kondisi yang lebih siap baginya (seniman) untuk hadir dalam sebuah pertunjukan. Misalnya, puasa tentu saja memberikan efek tertentu bagi tubuh, seperti meringankan tubuh, membuat tubuh lebih nyaman, dan sebagainya. Dalam praktik puasa juga, seseorang mau tidak mau dituntut untuk mengenali dan memahami kondisi tubuhnya, batasan-batasannya, dan juga kekuatan-kekuatannya. Keakaraban, penerimaan seseorang akan tubuh, kesiapan tubuh adalah hal-hal yang juga turut memengaruhi kualitas kehadiran. 

Dalam hubungannnya dengan ini, model-model latihan seperti berjalan mundur, atau melakukan hal-hal yang  berlawanan dengan kebiasaan (via negativa), adalah juga dekonstruksi. Dekonstruksi adalah juga sebuah pembongkaran kebiasaan lama, entah secara negatif (melakukan hal-hal yang berlawanan dengan yang biasa dilakukan), maupun dengan mengkondisikan pengalaman baru bagi tubuh. Sebagai contoh, jika sehari-hari menggunakan tangan kanan dalam aktivitasnya, seseorang bisa mencoba melakukan seluruh aktivitas dengan tangan kiri pada har-hari tertentu. 

Latihan berjalan mundur dengan bantuan cermin juga sebenarnya menghadirkan pengalaman visual dan spasial yang berbeda bagi tubuh. Kesadaran ruang tidak dibangun pertama-tama dari mata normal, tetapi dari 'mata cermin'. Bagian tubuh belakang diaktifkan untuk merespon ruangan, merespon kondisi-kondisi yang dihadapi dengan tubuh belakang. Dalam hal ini selain dibutuhkan kesadaran dengan intensitas yang lebih tinggi, juga terutama penerimaan akan disposisi tubuh dalam ruangan, dengan visi yang terkondisikan. 

Dalam latihan-latihan sejauh ini, yang ingin dijelaskan adalah yang dituntut pertama-tama dari seorang performer adalah kehadiran (presence). Kehadiran bukanlah suatu hal teknis, sesuatu yang dalam pertunjukan bisa 'diakali' dengan teknik tertentu. Kehadiran sebenarnya merupakan sebuah kualitas. Sebuah kualitas yang dapat dilatih salah satunya dengan terus-menerus mengaktifkan bagian-bagian tubuhnya, selain pikiran, dan emosi. Tubuh, sebagai medium ekspresi yang melekat dengan aktor/performer adalah hal yang umumnya pertama-tama hadir dalam pertunjukan. Indikator untuk mengukur kehadiran seorang performer adalah seberapa besar ia mampu menarik perhatian penonton, dan seberapa intens interaksinya dengan penonton berlangsung. 

Pemahaman lain yang keliru tentang kehadiran adalah kehadiran sama dengan acting. Hadir berarti berakting. Pemahaman yang berlebihan seperti ini bisa menjurus pada dua kecenderungan, yaitu overacting atau underacting. Perlu ditekankan lagi bahwa kehadiran sungguh jauh berbeda dengan akting. Kehadiran adalah sebuah kualitas yang lebih luas dan mendasar dari pada sebuah akting. Kehadiran melibatkan keseluruhan diri seorang manusia. Dalam tradisi Jawa (seni tradisi), kualitas kehadiran diindikasi oleh konsep-konsep, wiraga, wirama, dan wirasa. Dalam konteks latihan beberapa hari ini (performer studio), tubuh sebagai medium ekspresi yang melekat dengan performer adalah yang umumnya pertama-tama hadir, sebelum suara, dan pikiran. Karena itu penting sekali mengaktifkan tubuh.

Dari latihan-latihan yang dilakukan, kehadiran menjadi tidak maksimal karena beberapa alasan seperti rasa gugup, tidak yakin, dan terutama tidak menerima tubuh serta kondisi-kondisi yang melingkungi tubuh. Terlalu banyak berpikir juga menyebabkan kualitas kehadiran menjadi tidak maksimal.

Latihan V:
1. Para peserta diminta berbaring terlentang atau duduk dengan kedua kaki menjulur ke depan. Selanjutnya dengan instruksi fasilitator, para peserta diminta menyadari tubuh dan mengajak tubuh melakukan relaksasi. 
2. Setelah relaksasi, para peserta diminta untuk berjalan seperti yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di area permainan yang sudah ditentukan. Kemudian secara random fasilitator memberi beberapa instruksi kepada para peserta, antara lain berjalan duakali lebih cepat, dua kali lebih lambat, dan berjalan normal. 

Setelah relaksasi (latihan V.1), latihan-latihan selanjutnya bertujuan untuk mengaktifkan kesadaran interaksi antara performer dan semua hal yang melingkunginya. Kesadaran akan ruangan, kesadaran akan spectator, kesadaran akan hal-hal yang ada bersama dalam suatu 'given circumstances' turut menjadi penentu kualitas kehadiran. Selain kesadaran, interaksi pun menentukan kualitas kehadiran. Gerakan-gerakan yang diperlambat misalnya, memberikan kesempatan bagi para partisipan untuk merasakan inci demi inci perubahan gerak dan perpindahan tubuhnya. Ditekankan pula sekali lagi disposisi diri yang 'menerima' lingkungan apa adanya, kemudian meresponnya sesuai kebutuhan. Dalam latihan ini juga ditekankan perihal pengaturan nafas. Pengaturan nafas membantu menjaga tubuh tetap rileks dalam menyadari, menerima setiap gerak dan perpindahan dan selanjutnya merespon lingkungan.

Latihan VI:
1. Para peserta diberi kesempatan 5 menit untuk menulis tentang dirinya, (biografi singkat). Biografi singkat tadi kemudian dihafalkan. Setelah dihafalkan, narasi tentang diri tadi kemudian dipresentasikan di depan para anggota lainnya. 
2. Masih dengan bentuk latihan yang sama. Beberapa hal ditambahkan dalam ruangan, seperti orang-orang, kursi, dalam beberapa posisi. 

Foto: Kurnia Yaumil Fajar-Dokumentasi Teater Garasi


Kesan awal yang dialami oleh para peserta beraneka ragam. Ada yang merasa bahwa struktur yang dibangun dalam training ini (prosenium) memengaruhi perasaan para penampil. Ada semacam rasa gugup dan tegang berhadapan dengan situasi seperti ini. Ada juga yang berpendapat bahwa nafas yang susah diatur memengaruhi presentasi penampil. Ada yang merasa bahwa tatapan 'para penonton' membuatnya gugup. Ada juga yang merasa tuntutan menghafal tulisan membuat penampilannya terlalu terpaku pada tulisan. Penampil merasa terlalu banyak berpikir.

Latihan ini sebenarnya bertujuan untuk secara sederhana merangkum beberapa latihan sebelumnya. Latihan ini mengarahkan peserta untuk coba hadir dalam ruang yang telah ditetapkan untuk memainkan narasi tentang dirinya sendiri. Satu hal yang ditemukan para peserta adalah dalam konteks presentasi di panggung, selalu ada jarak antara performer dan repertoar sekalipun  repertoar yang coba dipresentasikan adalah cerita hidup performer sendiri.

Pada latihan ini, peserta diarahkan untuk memaksimalkan kehadirannya. Para peserta diminta untuk selalu menyadari dan mengatur nafas, menyadari ruangan, menyadari interaksi dengan penonton, dan menjaga tubuh agak tetap rileks.

Selanjutnya, beberapa  improvisasi dilakukan, seperti menambah beberapa orang di panggung dengan pose tertentu. Pengembangan-pengembangan ini memengaruhi penampakan visual di panggung, yang kemudian berpengaruh juga terhadap interaksi dan imajinasi atas narasi-narasi yang mungkin direpresentasikan oleh penampakan visual yang baru tersebut.

Presentasi narasi diri dengan menambahkan beberapa unsur di panggung (Latihan VI.2)
Foto: Kurnia Yaumil Fajar-Dokumentasi Teater Garasi

Beberapa kata kunci dalam workshop dekonstruksi:
1. restored behaviour
2. truthful behaviour
3. akulturasi-inkulturasi
4. ordinary-extraordinary
5. kesadaran-kehadiran
6. conditioning
7. given circumstances

Workshop Dekonstruksi (I)

Bagian I dari Rangkaian Studio Performer Teater Garasi 2017
Fasilitator : Yudhi Ahmad Tajudin

Senin, 19 Juli 2017


Latihan I:
Tiap peserta diminta mengulangi kembali aktivitas yang dilakukan 4-5 menit terakhir sebelum kegiatan dimulai. Aktivitas itu dilakukan secara fisik saja, menyertakan benda-benda yang dibawa (properti), tanpa mengeluarkan suara. 

Pada dasarnya teater atau art performing, adalah sebuah peristiwa bersama. Dalam peristiwa bersama (latiahan I) yang dilakukan sebelumnya, sekurang-kurangnya ada beberapa unsur teater/pertunjukan yang dijumpai, yaitu ada aktor/performer, seperangkat aturan 'repertoar', ada batasan waktu, ada 'given circumstances' (lingkungan yang ditentukan). Kesan-kesan yang timbul dalam latihan yang dilakukan antara lain aneh, tidak sinkron (waktu, interaksi), tidak natural/wajar. Hal ini selain terjadi karena tidak adanya latihan, seorang pemimpin yang mengatur jalannya latihan, dan komunikasi/diskusi sebelumnya, juga terutama karena tidak jelasnya 'repertoar'/ teks/ ide cerita yang menjadi rujukan oleh masing-masing pelaku, yang juga mempengaruhi interaksi satu sama lain. Dengan demikian, referensi untuk menilai 'kewajaran' sebuah aktivitas pertunjukan adalah kesesuaiannya dengan repertoar. Repertoar atau teks, atau ide cerita itu sendiri dapat dikonsturksi dari berbagai macam sumber, seperti peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari (ordinary experience) dan hal-hal luar biasa (extraordinary things) seperti mitos, tradisi, dan lain-lain. Repertoar dan tubuh performer pada dasarnya selalu memiliki jarak. Jarak ini bisa didekatkan (proses embodiment) melalui latihan-latihan. Dalam proses kreatifnya, teater Garasi membedakan dua jenis latihan, yaitu rehersal, dan training (pre-ekspresivity). Rehersal adalah latihan yang dilakukan dalam rangka produksi sebuah teater, yang berangkat dari kosa tubuh performer, sedangkan training memuat aspek yang lebih luas yaitu latihan sehari-hari yang bertujuan memperkaya kosatubuh, yang bisa bersumber dari 'pengalaman tubuh', pengalaman membaca, pengalaman mendengarkan, dan berbagai macam pengalaman lainnya. Prinsip ordinary dan extraordinary juga berlaku dalam proses memperkaya kosa tubuh. Kosa tubuh, 'pengalaman ketubuhan' bisa bereferensi pada tindakan-tindakan yang biasa dilakukan sehari-hari, atau latihan-latihan ketubuhan yang berlawanan dengan tindakan yang biasa dilakukan sehari-hari. Teater Garasi menekankan pentingnya training, sebagai basis dari penghayatan keaktoran.

Berangkat dari pemahaman ini, teater/seni pertunjukan sesungguhnya juga disebut sebagai restored behaviour (perilaku yang dipulihkan) atau truthful behaviour dalam kaitannya dengan repertoar. Dan karena repertoar selalu memiliki jarak dengan modal-modal dasar yang dimiliki performer, maka perlu dilakukan sebuah "dekonstruksi" dalam tahap awal latihan menjadi seorang performer. Dekonstruksi adalah proses pembongkaran modal-modal dasar yang dimiliki oleh performer. Proses pembongkaran ini tidak bermaksud 'menghancurkan' yang sudah ada dan dimiliki oleh performer, tetapi lebih sebagai bentuk pengenalan dan usaha menyadari modal dasar yang dimiliki masing-masing performer.  Dalam produksi seni pertunjukannya, Teater Garasi selalu berangkat dari tubuh-suara-ide/pikiran, dari yang material-konkret, kepada yang abstrak.



Latihan II:
Mengambil jarak di luar studio Garasi. Setiap peserta ditutup matanya (diikat dengan kain hitam) kemudian diminta berjalan dari posisi yang sudah diacak oleh para fasilitator, menuju titik terakhir tempat masing-masing peserta berdiri sebelumnya. 

Mengapa tubuh perlu didekonstruksi?
Tubuh seseorang pada dasarnya memiliki sejarah. Tubuh yang ada saat ini adalah hasil dari sebuah pengkondisian yang berasal dari masa ke masa sebelum saat ini. Konstruksi tubuh saat ini sekurang-kurangnya dikondisikan faktor-faktor biologis, sosio-kultural, dan faktor-faktor geografis.

Dalam kaitannya dengan tubuh, proses dekonstruksi dimaksudkan untuk mengenali sejarah tubuh seseorang, kelemahan dan kelebihannya, sehingga, kesadaran akan tubuh ini bisa menjadi alasan bagi seorang performer 'berkompromi' dengan tuntutan-tuntutan repertoar. Lebih mendasar dari pada itu, pengenalan yang lebih mendalam akan tubuh sendiri membantu seseorang dalam proses mengaktifkan organ-organ tubuh yang lainnya, yang selama ini diabaikan, dan tidak bekerja atau tidak mengalami pengalaman ketubuhan tertentu.

Latihan II bertujuan untuk mengatasi ketergantungan akan mata sebagai organ paling dominan yang digunakan oleh seseorang, sekaligus merangsang para aktor untuk mengaktifkan indera-indera lain berhadapan dengan satu fokus (tujuan) tertentu.
Foto: Kurnia Yaumil Fajar-Dokumentasi Teater Garasi


Latihan III:
1. Para peserta berbaris. Ada seseorang yang berdiri lebih ke depan untuk menjadi model. Model melakukan suatu gerakan dan yang lain mengikuti gerakan tersebut.
2. Para peserta berpasang-pasangan, berdiri berhadap-hadapan. Yang satu menjadi model yang lain menjadi cermin. Ketika model beregerak, cermin meniru gerakan model. Gerakan menggunakan prinsip cermin. (latihan ini dibuat beberapa kali dengan menambahkan parameter jarak) 
3. Masih seperti prinsip nomor 2, tetapi kedua pasangan saling membelakangi. 


Ada dua jenis gerakan. Ada gerakan yang dinamakan akulturasi dan ada gerakan yang dinamakan inkulturasi. Akulturasi dan inkulturasi dalam kaitan dengan latihan ini memiliki definisi yang berbeda dengan yang berlaku umum. Akulturasi berarti gerakan yang diambil dari luar, yang ditiru, diadaptasi, dan dijadikan gerakan sendiri. Inkulturasi berarti gerakan yang dimiliki oleh seorang performer, yang diekspresikannya keluar dan dikembangkan terus-menerus. Agar tidak membingungkan, gerakan inkulturasi disebut dengan istilah improvisasi.


Latiahan 1 dan 2 dimaksudkan untuk melatih interaksi dan komunikasi antara performer lewat dua model gerakan tadi. Sedangkan latihan 3, memasukan indikator baru, yaitu tubuh belakang yang hampir pasti tidak pernah diolah. Mengolah tubuh belakang sama pentingnya dengan mengolah tubuh depan (yang seperti mata menjadi satu hal yang dominan dalam aktivasinya). Semua ini mesti dilakukan dengan intensitas yang lebih, yang tidak hanya mengandalkan mata, tetapi juga rasa dan intuisi. Latihan-latihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kehadiran seorang performer di atas panggung dan dimana saja ia berada.

Latihan III:
1. Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok besar. Kepada masing-masing kelompok secara bergantian diperdengarkan instrumen musik jazz. Para peserta dari masing-masing kelompok diminta untuk mendengarkan dengan seksama suara instrumen ini, kemudian menirukan bunyi yang ditangkap. 
2. Para peserta diminta membuat sebuah komposisi musik dari modal dasar suara yang dimiliki. (Pada pengulangan latihan ini, komposisi yang dihasilkan ditambah lagi dengan beberapa parameter seperti dinamika dan tempo).


Modal dasar kedua yang dimiliki oleh manusia adalah suara. Suara pada dasarnya bukanlah sesuatu yang bersifat material-konkret, tetapi tetap memiliki sifat dan karakter fisikal, yaitu sebagai gelombang. Karena karakter fisikal inilah, suara bisa direkam. Manusia dapat menghasilkan suara melalui resonansi yang dihasilkan oleh pita suara. Meskipun secara 'sound' manusia memiliki keterbatasan, tetapi sebenarnya modal dasar suara ini bisa sekali dikomposisikan menjadi satu komposisi yang enak didengar (indah) dan bermanfaat untuk pertunjukan. Suara juga sebenarnya merupakan salah satu elemen penting dalam teater, khususnya yang menggunakan teks verbal (dialog maupun monolog). Dekonstruksi suara membantu performer melihat  dan mengenali batasan suara yang dimiliki oleh masing-masing performer, antara lain, warna suara, jangkauan nada, kekuatan, dialek, dan sebagainya yang juga ditentukan oleh faktor-faktor yang sama yang membangun konstruksi tubuh di atas.


Latihan III, sebenarnya menggali keterbatasan sekaligus mengoptimalkan modal dasar suara-suara yang ada. Sekaligus lewat latihan ini juga, para peserta diarahkan untuk memahami dengan seksama pentingnya kesadaran dan feeling akan dinamika, tempo, ritme, nada, interaksi setiap aktor (sumber bunyi adalah juga aktor, atau repertoar) dalam menghasilkan komposisi sebuah pertunjukan.


Refleksi Pribadi:

Hanya Ingin Terus Menulis (Mario F. Lawi-Penerima Penghargaan Taruna Sastra Nasional 2015)

Mario Lawi dengan Latar Belakang Danau Kelimutu. Foto diambil di sela-sela kegiatan wisata sastra pada Temu II Sastrawan NTT di Ende

Ada begitu banyak putra-putri NTT yang berhasil meraih berbagai prestasi gemilang sepanjang tahun 2015. Ada yang berhasil meraih kesuksesan dalam studi, ada yang berhasil meraih kesuksesan dalam mengembangkan bisnis, ada yang berhasil mengembangkan karya-karya sosial karitatif, dan ada juga yang mencetak prestasi-presatasi di bidang seni dan budaya, khususnya sastra. Yang disbutkan terakhir menyedot perhatian cukup besar dalam masyarakat NTT dewasa ini.  Banyak media telah memuat berbagai pemberitaan seputar event dan juga tokoh sastra NTT. Namun, rasanya belum cukup kalau nama yang satu ini belum ditampilkan kepada pembaca (publik) secara lebih dekat. Dia adalah Mario F. Lawi.

Nama Mario Ferdinandus Lawi telah menjadi salah satu simbol kebangkitan satra di NTT setelah sekian lama hanyut dalam nama-nama besar seperti Gerson Poyk atau Umbu Landu Paranggi. Mario yang lahir pada 18 Februari 1991 adalah penyair muda asal NTT yang telah mengharumkan nama Flobamorata di kancah kesusastraan nasional. Penghargaan yang pernah diterima oleh Mario antara lain, NTT Academia Award 2014 kategori sastra. Memoria menjadi salah satu buku kumpulan puisi rekomendasi majalah Tempo, 2013. Setahun kemudian, bukunya yang berjudul Ekaristi terpilih sebagai Buku Puisi Pilihan sekaligus membuatnya dinobatkan Tokoh Seni (Sastra) 2014 oleh majalah yang sama. Di samping penghargaan-penghargaan itu, Mario juga tercatat terlibat aktif baik sebagai peserta maupun pembicara di berbagai event sastra, misalnya pada Temu Sastrawan Indonesia IV di Ternate (2011), Pertemuan Penyair Nusantara di Jambi (2012), Makassar International Writers Festival (2013), Temu Sastrawan NTT I dan II (2013 dan 2015), Ubud Writers and Readers Festival (2013), Bienal Sastra Salihara, Jakarta (2013), Temu Sastrawan Mitra Praja Utama VIII, Banten (2013), Makassar International Writers Festival (2014), Program Penulisan Esai Majelis Sastra Asia Tenggara (2014), dan Festival Sastra Santarang (2015).

Konsistensi Mario F. Lawi dalam dunia sastra menghantarkan ia pada podium penerimaan penghargaan Taruna Sastra Nusantara 2015. Yang membanggakan adalah penghargan tahunan ini baru pertama kali dibuat dan Maria sebagai penerima pertama berasal dari NTT. Penghargaan Taruna Sastra dibuat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam rangka memberikan penghargaan atas prestasi generasi muda berusia maksimal dua puluh lima tahun yang konsisten mengembangkan kemampuan dan kreativitas berkarya serta mengapresiasi karya sastra. Oleh tim seleksi, Mario dilihat sebagai salah satu aktor muda yang berpengaruh dalam mengembangkan sastra NTT. Selain lewat penilaian bobot karya yang dihasilkan (buku dan karya yang sudah dipublikasikan), Mario juga berperan penting dalam terbentuknya komunitas sastra Dusun Flobamora, salah satu komunitas sastra yang sejak beberapa tahun terakhir memberi kontribusi besar dalam pengembangan sastra NTT. Di komunitas sastra ini, Mario menjadi pemimpin redaksi Jurnal Sastra Santarang sebuah jurnal sastra nirlaba yang dikelola bersama anggota komunitas. Seiring perkembangan, jurnal ini menjadi salah satu barometer media yang merawat karya-karya sastra putra-putri NTT, dan juga mendapat respon serta kontribusi positif dari sastrawan-sastrawan nasional.

 “Saya mengikuti kegiatan ini atas informasi serta rekomendasi Pa Luthfi Baihaqi (Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT). Saya mengikutinya tanpa target apa pun. Namun, saya senang bisa menerima penghargaan ini, dan membawa nama NTT.” Bagi Mario, kesuksesan ini merupakan kerja komunitas, sehingga seluruhnya ia dedikasikan untuk komunitas dan perkembangan sastra NTT. Mario berpendapat bahwa di NTT, keterlibatan aktif pemerintah nyata dalam program-program Kantor Bahasa NTT yang sangat realistis, dan sudah berjalan serta menghasilkan perubahan-perubahan besar di NTT. Namun, menurut Mario, kreativitas dalam berkarya tidak seharusnya bergantung pada program-program pemerintah. “Banyak program-program pemerintah daerah dalam bidang kebahasaan yang tidak berjalan, seperti program literasi (pengentasan buta huruf) yang sudah seringkali dicanangkan tetapi tidak mendapat hasil yang kelihatan. Pemerintah daerah bisa bermitra atau mencontohi program kantor bahasa, yang lebih realistis misalnya membuka kelas menulis dan membaca yang melibatkan sekolah-sekolah.”

Pada tahun 2016 ini, peraih cum laude pada Jurusan Ilmu Komunikasi UNDANA tahun lalu itu masih mengarahkan impiannya pada pengembangan komunitas sastra tempat ia bergelut. “Saya tidak punya visi yang besar untuk NTT. Tahun 2016 ini, saya dan kawan-kawan di komunitas berniat mengaktifkan kelas menulis dan membaca sebagai sebuah bentuk kaderisasi bagi anggota-anggota komunitas lainnya, khususnya bagi anggota yang lebih muda. Kami ingin membangun sebuah taman baca.” Secara pribadi, impian Mario hanyalah ingin terus menulis. “Kalau proyek atau impian prbadi, saya hanya ingin terus mampu menulis, sampai tidak bisa menulis lagi.”

Mario F Lawi dengan Tiga Bukunya, bersama Erik dan Dimas,
 Penulis Muda NTT
Bagi sesama generasi muda NTT, Mario sedikit memberikan sharing pengalaman dalam hal menulis. “Banyak kelas menulis di NTT yang selalu memulai dengan langsung memberikan penekanan tentang cara menulis yang baik. Bagi saya, kita hanya bisa menulis jika sudah terbiasa dalam membaca. Generasi muda NTT yang ingin menulis, sebaiknya membiasakan diri dengan membaca. Harus kita akui budaya membaca kita masih lemah”. Selain itu, Mario juga menyoroti pentingnya kompetisi dan juga kepercayaan diri. “Saya senang semakin banyak teman yang ikut berkompetisi dalam lomba-lomba penulisan meskipun itu diadakan secara online. Banyak kecenderungan dari penulis NTT yang sudah puas jika karyanya sudah dimuat di media lokal. Padahal, sangat baik untuk mencoba mengirimkan karya di berbagai media lain di luar NTT dan yang bertaraf nasional, selain sebagai promosi, tetapi terlebih lagi dengan itu kita bisa mengukur kualitas karya kita. Penghargaan apa pun sebenarnya hanyalah konsekuensi dari ketekunan. Jika kita berusaha mengembangkan diri, penghargaan akan berdatangan sendiri, dimana-mana begitu”, kata pria yang pernah mengeyam pendidikan di Seminari St. Rafael, Kupang ini. 

Menyimak Khotbah (Apresiasi dan Kritik atas Pementasan ‘Khotbah’ oleh Teater Aletheia Ledalero)

Adegan Imam Diadili oleh Para Malaikat Maut dalam Pementasan 'Khotbah' oleh Aletheia Teater Ledalero. Foto oleh Ferer Dede, SVD.



Suasana hening, gelap, dan pekat pecah oleh suara fu dan gemuruh ombak yang langsung disambar oleh lengking nada sopran seorang wanita:

“seribu kemarau aku berlayar mengarungi tujuh samudera
seribu hujan menerpa perahuku, hingga di Kaimana aku berlabuh
sejuta ikan di biru lautan, janji sebuah masa depan
di bawah dahan pepohonan rindang aku sandarkan sejuta impian”

Sayup-sayup suara yang terdengar sampai pada puncaknya, ketika wanita cantik nan anggun bagai bidadari dalam balutan gaun putih, yang semula bernyanyi sambil berbaring di atas pembaringan dari kain hitam bertaburan bunga dengan lampu sorot berfokus kepadanya, berdiri dan menuntaskan nada serta syair bernuansa archipelago tadi:

"dengarlah kawan oh dengarlah
ini dongeng batu riwayatku
dari arah terbit mentari, jauh di ujung cakrawala
bersama angin aku datang mencari arti kehiduapan".


Syair berakhir. Cahaya kembali padam. Suasana gelap, pekat dan sunyi kembali tercipta. Setelah agak lama, dari kejauhan, timbul titik cahaya dari sebuah lentera sederhana. Seorang lelaki tua renta, lirih berteriak, “Eli.. Eli.. Lamasabaktani?” Lelaki itu tertatih-tatih berjalan mengitari semua orang yang memerhatikannya. Di wajahnya tergurat lukisan kebingungan juga kecemasan. Lenteranya diangkat tinggi-tinggi, ia mencari-cari sesuatu-entah apa, di balik mata-mata tajam dan siluet wajah-wajah yang terus mengikutinya. Dengan nada pasrah dan letih, berulang kali ia meneriakan hal yang sama, “Allahku, Ya Allahku, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?”

Lelaki tua itu terus berjalan. Sampai pada satu titik, tempat semua mata bisa tertuju kepadanya, ia berhenti. Kelelahannya tidak sempat ia pulihkan. Di hadapannya, pada sebuah layar putih, ditampilkan potongan-potongan video dan gambar tentang anak-anak busung lapar, tentang perempuan-perempuan yang dijual seperti bawang merah, tentang ODHA yang sekarat tetapi tidak mendapat perhatian, tentang kemewahan WTC yang runtuh seketika setelah ditabrak dua buah pesawat yang dibajak teroris, tentang darah dan mayat-mayat yang tumpah-ruah bergelimpangan akibat kebrutalan ISIS. Melihat semua itu, lelaki tua renta tadi berteriak lirih “Eli! Eli! Apakah aku ini binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang? Dalam matamu, Engkau meninggalkan aku. Dalam pikiranmu, Engkau meninggalkan aku. Dalam hatimu, Engkau meninggalkan aku!” Beberapa kali setelah meneriakan kata-kata dengan nuansa serupa, dia meninggalkan semua mata dan telinga yang memusatkan perhatian kepadanya. Hatinya seperti hancur berantakan.

Adegan berganti. Dentang lonceng terdengar. Beberapa orang yang memerankan sosok umat tampil dan menuju panggung utama. Mata mereka di tutup dengan kain putih yang diikat melingkari wajah. Sesaat setelah itu, chapel organ berbunyi, lantas melatari paduan suara yang menyanyikan lagu “Zadok The Priest”. Nyanyian gubahan George Frideric Handel itu mengiring perarakan masuk imam dan para para putra altar. Misa dan berbagai ritual yang ditampilkan lewat gestikulasi tubuh imam dan para putra altar pun dimulai. Sampai pada bacaan Injil, lampu panggung kembali redup. Kisah dari Injil Lukas tentang ‘Orang Samaria yang Baik Hati’ (Luk 10:33-37), yang sedianya dibacakan oleh imam dipentaskan secara teatrikal.

“Saudara-saudara yang mencintai Tuhan! Sekarang kita bubar! Hari ini tidak ada khotbah!”, dengan nada angkuh, imam berkata-kata dalam kesempatan khotbahnya. Beberapa kali imam meneriakan hal ini, menyuruh umat bubar. “Lihatlah aku masih muda. Biarlah aku menjaga sukmaku. Silahkan bubar. Ijinkanlah aku memuliakan kesucian. Aku akan kembali ke biara, merenungkan keindahan ilahi”, sang imam memelas, berusaha membenarkan pilihannya. Bisik-bisik terjadi di kalangan umat yang kebingungan, tetapi tidak beranjak dari tempat duduk. Imam menyerah, dengan kesal mengalah dan memulai khotbah.

Kata-kata meluncur keluar dari mulut imam, seperti mengalir begitu saja tanpa pertimbangan. “Saudara-saudaraku, para anak Bapak di sorga. Inilah khotbahku. Ialah khotbahku yang pertama. Hidup memang berat. Gelap dan berat. Kesengsaraan banyak jumlahnya. Maka dalam hal ini kebijaksanaan hidup adalah ra-ra-ra!!! RA-RA-RA, HUM-PA-PA, RA-RA-RA!!!” Umat kaget, bingung dan tidak mengerti. Mereka mengulangi desis-desis aneh di akhir khotbah. Beberapa kali imam mengeluarkan kata-kata kosong, dengan desis-desis aneh yang sama di akhir kalimat-kalimat itu, dan langsung disambut umat dengan respon melawan. Di sela-sela dialog antara imam dan umat, terdengar suara gemuruh. Paduan suara menyayikan petikan lamentasi “Yerusalem, Yerusalem, Berbaliklah…” Mendengar itu imam kaget dan ketakutan, tetapi tidak menghentikan khotbahnya.

Klimaks dari teater ini adalah kemarahan umat. Umat marah dengan desis-desis aneh yang memenuhi ruangan Gereja saat khotbah. Umat menghancurkan tempat perjamuan. Altar dibanting. Lilin dipatahkan. Buku-buku misa dibuang. Para putra altar lari ketakutan, kecuali imam yang berdiri dan asyik dengan dirinya sendiri. Para umat kemudian jatuh bergelimpangan di seputar altar perjamuan. Kain yang menutupi mata mereka dibuka. Mereka menatap layar yang menampilkan berbagai ketimpangan seperti yang dilihat pria tua renta yang mencari Eli. Mereka menjerit. Seperti sedang kesurupan, mereka berteriak-teriak mengeluhkan penderitaan mereka.

“Tuanku yang saleh, sudah berakhirkah khotbahmu? Mengapa kami masih lapar? Masih sakit? Masih kecewa? Sabda-Nya, ‘Yang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, tak akan lapar dan haus untuk selamanya!’ Grrrrr! Grrrr! CHA! CHA! CHA! Tidak ada Tuhan di sini! Kita semua manusia dan kita lapar akan cinta. Mari kita santap imam kita! CHA! CHA! CHA!” Umat marah. Imam mereka hajar hingga sekarat dan tak berdaya, seperti orang yang dirampok dalam Injil yang dibacakannya sebelumnya. Lalu mereka meninggalkan imam itu sendirian, merana.

Adegan beganti. Para malaikat maut berjubah coklat dan berkapus menutupi kepala masuk dengan obor di tangan, memecah kegelapan yang muram. Dari mulut mereka terdengar lirih penggalan lamentasi, “Lihatlah Raja penguasa dunia datang. Ialah yang akan membebaskan kita dari belenggu perhambaan”. Mereka datang mengelilingi imam dan mengadilinya. Terjadi dialog. “CONFUTATIS!!! MALEDICTIS FLAMMIS ACRIBUS ADDICTIS!!!”, berulangkali para malaikat berteriak. “Voca me! Voca me cum benedictis! Oro supplex et acclinis. Cor contritum quasi cinis. Gere curam! Gere curam! Gere curam!”, imam memelas memohon pengampunan. Adegan ini terjadi beberapa kali, hingga pada akhirnya para malaikat pergi meninggalkan imam. Nyawa sang imam tidak jadi dicabut, ia diberi kesempatan untuk bertobat.

Adegan diakhiri dengan masuknya koster untuk menolong sang imam. Namun, sebelumnya, lelaki tua renta yang memegang pelita hadir dan menyampaikan monolog. “Kami adalah putra-putri penderitaan dan kalian adalah putera-puteri kesenangan. Kami menangis, menyebar simpati, tetapi kalian adalah putra-putri kesenangan dan tak ada yang kalian dengar selain denting piala-piala anggur kesibukan kalian setiap hari”. Setelah lelaki tua renta keluar dari panggung, dan koster telah menolong sang imam serta memperbaiki ruang perjamuan, masuklah para umat yang tadi membuat kerusuhan. Imam menerima mereka di gerbang ruang perjamuan dengan memeluk dan mengecup mereka satu per satu. Selanjutnya, dengan bantuan koster, imam menanggalkan kasulanya, dan mulai membasuh satu per satu kaki dari para umat sebagai bentuk rekonsiliasi. Keseluruhan pentas ditutup oleh nyanyian We are The World yang dibawakan oleh seluruh penampil.

Lelaki Lusuh Menyampaikan Monolog. Foto oleh Dede Aton
Khotbah dan Krtik atas Dosa Klerikalisme

Sejak awal, disposisi batin para penyimak dan pemirsa teater ‘Khotbah’ telah dibentuk oleh lagu “Dongeng Batu” gubahan Ubiet, dengan nada-nada minor resitatif yang lirih dan menggugah afeksi. Eksplorasi yang dominan adalah aspek kesedihan, kemuraman, dan kemurungan. Hal ini dapat terlihat dari pencahayaan yang minim dan gelap, serta sosok lelaki tua, renta, lusuh yang juga membuka adegan demi adegan cerita dengan teriakan lirih. Suasana sedih itu juga dibentuk oleh tayangan video (slide show), dengan tema-tema yang sudah diarahkan khusus untuk memantik pemahaman pemirsa dan penyimak tentang makna keseluruhan tema cerita ini. Simpati para pemirsa dan penyimak khotbah coba dibangun. Pemirsa sudah dipersiapkan untuk menyelesaikan pentas teater dengan suatu perasaan haru dan prihatin atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di dunia ini, tentu termasuk di dalam masyarakat dekatnya.

Adegan selanjutnya memaksa penyimak dan pemirsa ‘duduk manis’ dan mendengarkan. Teater ‘Khotbah’ menampilkan penggalan ritual misa yang pada dasarnya kaku, dan monoton. Secara visual-gestikulasi, hampir tidak ada yang menarik. Penonton yang datang dengan motivasi melihat sebuah pertunjukan hiburan (entertainment) sudah pasti akan ‘stres’. Namun, inilah titik pusat teater khotbah. Pusat ini bisa menjadi titik kehancuran, atau sumur bagi pemirsa mencerap keseluruhan isi (makna) pementasan. Titik kehancuran itu tercapai ketika pemirsa atau penyimak sampai pada perasaan bosan dan jenuh yang tidak teratasi, sebaliknya bisa menjadi sumur pemaknaan bila kejenuhan itu disertai dengan telinga yang terus terarah kepada verbal points yang terbit dari mulut imam.

Terlepas dari pendapat masing-masing pemirsa dan penyimak, satu hal menarik yang terjadi pada pementasan teater ‘Khotbah’ adalah kejelian tokoh imam menyampaikan pesan-pesan khotbahnya yang kaku dan monoton itu dengan kemampuan yang membuat semua mata serta telinga tertuju kepadanya. Emosi penonton yang bosan dibuat semakin panas dengan isi khotbah yang amburadul dan berantakan. Emosi penonton yang memang ‘sudah dirancangkan’ untuk jenuh digali lebih mendalam oleh si imam. Pemirsa dan penyimak memang harus marah, harus, bosan, dan harus memiliki pandangan negatif tentang si imam, seperti kebanyakan penonton memberi pendapat mereka tentang tokoh nenek Tapasha dalam serial Uttaran. Dalam hal ini, dari segi persuasi, imam berhasil. Meski bosan, jenuh, dan jengkel, para hadirin memirsa dan menyimak.

Beberapa aksi teatrikal juga turut membantu membuat betah para pemirsa dan penyimak. Aksi teatrikal itu antara lain, penceritaan kembali kisah orang Samaria yang baik hati, disusul dengan kisah ratapan dan juga kemarahan umat atas imam. Justru, adegan kemarahan umat atas imam menjadi titik puncak seluruh cerita dalam teater ini. Dari dua adegan ini, jelas sekali bahwa, teater ini berupaya menggali aspek anarki dan kekerasan. Sampai di sini, secara umum teater ini cukup mampu menarik perhatian para penonton, terlepas dari pemaknaan yang dibangun masing-masing dari mereka. Pertanyaannya, mengapa teater-teater kita (beberapa teater yang sering muncul di wilayah Maumere), sering sekali mengeksplorasi adegan-adegan dengan nuansa anarkisme atau kekerasan?

Soal makna, hal yang paling menonjol yang ingin ditampilkan dalam ‘Khotbah’ adalah kritik terhadap klerikalisme. Klerikalisme oleh P. John Mansford Prior (dalam sebuah wawancara dengan majalah hidup) didefinisikan sebagai ‘kultur relasi kekuasaan yang disokong rupa-rupa kebiasaan yang meluputkan oknum klerus dari proses hukum. Artinya, kultur klerus yang memakai struktur-struktur intern Gereja untuk menetapkan, lantas mempertahankan relasi kekuasaan, serta relasi yang berpola superior-inferior. Misal, ketika skandal seorang imam terbongkar, tiba-tiba tahbisan menjadi lebih mahal daripada martabat si korban. kerapkali dikumandangkan seorkes retorika teologis, dipasang sederetan ketentuan kanonis untuk melindungi oknum klerus dan membungkam si korban”. Keasyikan mereguk kenikmatan yang berpusat pada diri (egosentris), merasa cukup-diri dan watak acu-diri, menjadikan kuasa dan otoritas sebagai pembenar adalah juga ciri khas kelirkalisme. Menurut Bapa Suci, klerikalisme akrab dengan legalisme, yakni kebiasaan menjadikan diri sebagai sumber tafsir atas kebenaran.

Dalam khotbah, aspek kelirikalisme ini bahkan sudah muncul dari distorsi rasa yang dibangun dalam suasana kaku, akting monoton, serta verbalisme yang dominan dan memakan waktu sangat lama. Karena itulah, tolak ukur keberhasilan teater ini juga terletak dari rekonsiliasi rasa. Artinya, kejenuhan yang timbul daalam diri penonton harus disembuhkan. Salah satunya lewat ‘pemaknaan yang sampai’. Dalam kejengkelan dan kejenuhannya, penonton harus pulang membawa sesuatu, membawa pesan yang berguna bagi kehidupannya. Penonton harus puas dengan makna yang ia peroleh. Sekali lagi, yang mengundang tanya dari teater ini adalah ‘mengapa aspek anarkisme dan kekerasan’ yang dipilih sebagai media pelampiasan, pelepasan, orgasme dari sebuah kebencian terhadap hegemoni kekuasaan klerus? Apakah memang aspek kekerasan dan anrkisme inilah yang paling dekat (menjadi latar belakang) dengan teks? Atau, anarkisme hanyalah simbol depresi dan kehausan yang sudah sampai pada level paling akut? Jika basis eksplorasi ini bercorak mimesis (ada dalam/tiruan dari psikologi umat empiris), bukan tidak mungkin teater ini memberi sebuah peringatan berharga bagi Gereja, terutama atas bom waktu yang ada dalam dirinya sendiri, entah bom waktu itu bercorak lokal atau universal.

Soal makna, teater ini menampilkan beragam makna yang tersebar dalam berbagai adegan, ucapan, hingga simbol-simbol (tata panggung, ritus, dll). Meski tujuan awal teater ini lebih sebagai otokritik atas tubuh klerus yang nyaman dengan status quo, pemirsa dan penyimak ‘sudah dipaksakan’ dengan makna yang lebih luas. Bias itu terjadi ketika pemirsa dan penyimak ‘Khotbah’ dihadapkan dengan video-video dalam slide show dan lagu dongeng batu yang secara semantik memiliki jarak pemaknaan yang cukup jauh dari keseluruhan isi cerita. Klerikalisme yang dimaksudkan dalam teater ini bisa merujuk pada sikap cuek Gereja terhadap situasi dewasa ini, situasi krisis yang tak teratasi, yang begitu banyak jumlahnya. Gereja dalam hal ini bisa dimaknai secara lebih luas, yaitu Gereja sebagai keseluruhan umat Allah. Hanya saja, hal ini bisa membuyarkan fokus otokritik terhadap klerikalisme. Hal lain, jika ingin konsisten, secara melodis ‘Dongeng Batu’ mungkin memberikan teror auditif yang berhasil menciptakan suasana. Namun, dari segi syair, makna dendang ini memiliki jarak yang cukup jauh, sehingga dibutuhkan refleksi yang lebih baik (jika tidak ingin disebut pemkasaan) untuk sampai pada intertekstualitas pemaknaan dengan keseluruhan teater.

Hal lain yang perlu juga disoroti adalah makna Ekaristi yang terkesan terpenggal. Teater ini mengambil satu scene dari keseluruhan perayaan Ekaristi. Itu berarti, jika ingin konsisten, setelah liturgi sabda, masih ada ritus lain yang penting yang harus dilewati, khususnya Ekaristi yang menjadi pusat. Anehnya, dalam mengawali khotbah, imam dengan percaya diri berkata “Saudara-saudara yang mencintai Tuhan! Sekarang kita bubar! Hari ini tidak ada khotbah!” Ajakan kepada umat untuk bubar seakan-akan dipaksakan hadir dalam teks hanya dengan tujuan memperkuat eksplorasi emosi umat, sebab kalau pun tidak ada khotbah, toh masih ada ritus lain yang harus dijalani dan imam tidak seharusnya membubarkan misa di tengah jalan. Aspek hakiki Ekaristi yang dipertegas dengan memori pembasuhan kaki (mengutip peristiwa perjamuan malam terakhir) sebagai adegan penutup, seakan diperlemah oleh kalimat pertama khotbah imam ini. Skenario yang sama tentang figur imam yang terkesan dipaksakan juga muncul dalam kalimat, “saudara-saudaraku, para anak Bapak di sorga. Inilah khotbahku. Ialah khotbahku yang pertama”. Akan sangat sulit bagi kita menemukan referensi tentang imam baru, dengan karakter serta khotbah perdananya seperti ini dalam kehidupan nyata.

Lagu Usai Adegan Pengadilan Imam. Foto oleh DedeAton
Satu pertanyaan terakhir yang juga bisa saja timbul adalah apa memang rekonsiliasi antara imam baru yang mewakili klerus dan anarkisme umat, yang maknanya sulit sekali diterjemahkan secara konkret itu (meski secara historis Gereja pernah mengalami hal serupa), cukup hanya dengan saling menerima dan memaafkan? Jelas, klerikalisme sangat bertolak belakang dengan spirit kenabian. Tindakan pembasuhan kaki adalah simbol sikap profetis sebagai pelayan. Namun, klerikalisme juga memiliki dimensi yang luas untuk diatasi, termasuk dari sisi psikologi dan habitus umat yang membiarkan bibit-bibit klerikalisme tumbuh.

Terlepas dari banyak catatan tentang teater Khotbah, apresiasi perlu diberikan kepada Aletheia Ledalero yang dengan gemilang telah menyelesaikan pementasan teater ini. Sebagai informasi, teater ini dibawakan pada hari Selasa, 22 Maret 2016, dalam pekan suci sebagai bentuk refleksi kritis bagi Gereja sebagai umat Allah, dalam mempersiapkan diri merayakan Paskah. Kiranya, pesan ‘Khotbah’ terus menggema di hati para penampil, pemirsa serta penyimaknya.

Tentang Agama dan Iman




Cum eadem spes
Sicut tua, te amo.
Spes me semper salvat
Cum religio non iam satis sit.

-----------------------------

Dengan iman yang sama
Seperti imanmu, aku menyayangimu.
Iman senantiasa menyelamatkan
Aku ketika agama tak lagi cukup.


Tentang syair ini, Mario Lawi pernah berterus terang, bahwa 'cinta beda agama'-lah yang melatari bangunan pemaknaannya. Namun, syair tetaplah syair, puisi tetaplah puisi. Penyair selalu sudah langsung mati ketika ia menyajikan syair yang ditulisnya (dengan otoritas pemaknaan) kepada semua yang mengapresiasi karya itu. Yang tertinggal hanyalah syair yang dihadapi oleh begitu banyak pembaca, penikmat, pendengar, dan semua yang memberi waktu untuk sekedar merenungkannya. Dengan demikian, makna tak lagi tunggal. Makna perlahan menyebar, merambat, membekas, di otak, hati, hingga gerak laku semua yang mengambil syair itu menjadi miliknya. Mario mungkin sudah mati bersama 'cinta beda agama-nya', ketika beberapa saat sebelum tulisan ini purna, syair ini menggema di langit malam halaman rumah Sonia.

Feurbach mungkin benar soal pernyataanya bahwa Allah adalah hasil proyeksi manusia-manusia yang kehilangan harapan dan daya untuk hidup. Manusia yang terbatas, selalu melihat diri dalam dualisme antara ketidakmampuannya, dengan sesuatu yang lain yang lebih luas dari kemampuannya. Manusia lantas memproyeksikan 'sesuatu yang tak terbatas' sebagai yang ada, berdiri sendiri, dan berkuasa di luar dirinya. 'Sesuatu yang tak terbatas' itu diberi karakter manusiawi, dipersonifikasi sedemikian rupa, sehingga menjadi sosok patronis, tempat manusia meletakan segala beban dalam hidup yang keras. Manusia menyembahnya, menjadikan dia sandaran dan penopang: sesuatu yang menurut Feurbach menjadikan manusia terasing dari dirinya sendiri. 'Manusia mengakui dalam Tuhan, sesuatu yang diingkari dari dirinya sendiri'. Karen itu, manusia beragama yang menyembah adanya sesuatu yang disebut Tuhan selalu sudah terasing dengan dari dirinya sendiri.

Marx yang dicerhakan oleh Feurbach, pun tidak main-main mengeritik agama sebagai candu bagi masyarakat. Agama semakin meninabobokan manusia, yang secara negatif dalam kerangka pemahaman Marx dapat dipahami sebagai 'the suffering being'. Manusia sebagai makhluk yang terbatas, adalah makhluk yang menderita. Namun, Marx tidak hanya berhenti pada kritik terhadap agama. Menurut Marx, pelarian yang dilakukan oleh manusia selalu didorong oleh realitas yang tidak memberi jaminan kepada manusia untuk hidup sesuai dengan fitrah dan pilihan bebasnya. Kritik pada agama adalah tumpul, tanpa kritik terhadap sistem-sistem dalam masyarakat. Kritik terhadap surga adalah sia-sia, tanpa adanya kritik terhadap dunia. Marx ingin mengubah dunia, karena interprtasi selalu tidak cukup. Marx ingin agar realitas yang telah terdistorsi oleh kelas-kelas sosial, ekonomi kapitalis yang secara tidak langsung maupun langsung mendapat legitimasinya dalam agama dan kebudayaan, harus segera diakhiri dengan satu aksi revolusioner bercorak sosialisme ilmiah, demi tercapainya 'kerajaan kebebasan'. Bagi Marx,kesetaraan kelas adalah segalanya, dan manusia pada akhirnya adalah materi, dan selalu hanya materi. Manusia adalah economic animal.

Bagi Mario, agama bisa menjadi sangat terbatas. Agama bisa menjadi tak cukup. Bagi Mario, agama dalam arti tertentu bisa menjadi penghalang, atau tembok yang memenjarakan. Marx mungkin mendasari kritiknya akan agama dengan melihat situasi Gereja yang amburadul pada masa itu. Gereja yang menjanjikan pembebasan, justru melegitimasi ketertindasan dan tidak memiliki opsi terhadap yang menderita, kecuali pelajaran moral yang sama sekali tidak mengubah sistem dalam realitas masyarakat. Ini sudah barang tentu tidak akan mengubah taraf kesejahteraan hidup manusia. Kisah tentang Allah pembebas yang lewat nabi-nabinya, bahkan Putra-Nya sendiri membebaskan penderitaan para janda dan anak-anak yatim piatu agaknya hanya menjadi nostalgia semata. Marx meragukan keberpihakan Gereja, dan mempertanyakan janji kebangkitan jiwa-badan, yang selalu berarti manusia akan mengalami transformasi secara keseluruhan sebagai pribadi. Agama bagi Marx, menjanjikan sesuatu yang pada kenyataannya tidak dapat diusahakannya sendiri.

Marx mungkin akan semakin tertawa jika tahu, bahwa telah banyak manusia di dunia ini yang hidup dalam agama dengan suatu kesadaran palsu. Kesadaran palsu itu yang membuat manusia selalu membuat kapling-kapling eksklusif, mengidentifikasi dirinya sebagai yang lain dari yang lain, yang benar dari yang bidaah, yang baik dari yang buruk, dan yang suci dari yang najis. Marx akan semakin berbangga diri sembari mencibir ketika melihat doktrin-doktirn agama menjadi basis legitimasi berbagai jenis teror, pembunuhan, perang, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Agama masa kini adalah agama dalam ideal Marx, agama yang menjadi candu bagi masyarakat. Siapa saja yang hidup dalam candu, kemabukan, dan kesadaran palsu, berpotensi arogan dan reaksional jika berhadapan dengan yang lain, yang dianggap mengancam eksistensinya. Sekali lagi, Marx mungkin akan tertawa dengan sangat nikmat jika fenomena seperti ini bisa diamatinya.

Namun, apakah Marx bisa membatalkan, kalau manusia juga selalu punya apetitus naturalis, sebuah kerinduan (keterarahan) yang sifatnya alamiah kepada kebahagiaan dan kedamaian sempurna, yang selamanya tidak bisa dipuaskan oleh barang-barang ekonomis semata? Marx mungkin bisa menghapus kapitalisme pun secara utopis, tetapi apakah Marx, dengan sistem ekonominya bisa membatalkan sebuah factum primum, bahwa manusia secara ontologis memiliki keterbatasan yang paling radikal dari eksistensinya sebagai manusia, yang oleh karenanya selalu terbuka kepada Yang Transenden, sebagai cakrawala tak terbatas, tempat ia mengeksplorasi kerinduan-kerinduannya? Keterbukaan kepada Yang Transenden sebagai cakrawala yang tidak terbatas tidak serta merta membuktikan adanya Tuhan, tetapi juga tidak bisa membatalkan begitu saja adanya Tuhan. Intinya, manusia selalu melebihi yang materi semata. Manusia selalu bermatra epistemologis, etis, dan estetis.

Dan iman selalu hadir sebagai sebuah keberanian berkonsistensi terhadap sesuatu yang diyakini, yang juga selalu berpaut erat dengan harapan sebagai sebuah cakrawala, kaki langit kemungkinan dan cinta sebagai daya yang mempersatukan. Iman selalu menuntut adanya keterbukaan, merasakan sesuatu yang tak terbatas. Iman selalu berarti penyingkapan diri yang total terhadap sesuatu yang transenden, yang hanya bisa diterima keberadaannya dengan seluruh diri dan sangat pribadi. Iman pun menuntut adanya pemberian diri terhadap yang lain, kebersediaan untuk berkomunikasi dengan yang lain sebagai yang setara dalam komunitas kosmik.

Manusia tidak serta merta bisa direduksikan sebagai economic animal, tidak juga bisa dikerangkakan dalam tembok-tembok keagamaan yang sempit. Manusia adalah substansi dan subjek multidimensional yang tidak hanya bisa ditakar secara material, tetapi satu-kesatuan jiwa-badan yang bertindih tepat. Materialisme Marx sesungguhnya kontradiktoris dalam dirinya sendiri, ketika di satu sisi berusaha mengkampanyekan kemampuan manusia mengenal esensi materialnya, dan dalam memprediksikan hakikat serta tujuan akhir sejarah, tetapi di sisi yang lain bersikukuh bahwa pengethuan manusia hanya bersumber dari hal-hal empiris, pengalaman indrawi saat ini. Manusia bukanlah makhluk yang menyerah pada determinisme alam. Manusia bisa melampauinya, dengan rasionalitas dan imannya. Manusia pun terbuka pada keterbatasannya. Manusia terbuka pada kekurangannya. Manusia mentransendensi dirinya, terbuka pada pelbagai kemungkinan kebahagiaan, kedamaian, dengan cinta sebagai kekuatan utama mencapai cita-cita kesempurnaan itu. Sehingga, dalam wujud yang paling nyata, keterbukaan itu melahirkan penerimaan kepada yang lain sebagai partner, sebagai sebuah penolong yang sepadan, sebagai yang satu dalam komunitas kosmik.

Manusia mungkin perlu agama sebagai panduan yang mengarahkannya untuk membuka diri kepada yang lain, juga kepada Yang Transenden. Agama yang statis, bisa menjadi penjaga ritme, pembentuk kebiasaan, dan juga bisa menjadi penuntun dalam membangun sistem nilai yang bisa dihidupi oleh manusia dalam keterbatasannya, dalam ruang serta waktu yang terbatas pula selama ia hidup di dunia ini. Namun agama lewat doktirnnya tidak bisa membatasi interelasi manusia sebagai yang sama-sama hadir dalam komunitas kosmik, yang selalu menuntut adanya komunikasi, saling pengertian, tenggang rasa, dan sikap saling berbagi. Iman lebih yang bersifat liquid, yang adequat dengan cinta serta harapan adalah penyambung asa, jembatan, dan landasan komunikasi ketika doktrin agama menjadi penghalang, sistem dan kelas ekonomi menjadi pemisah, dan perbedaan suku serta ras menjadi tameng untuk saling menutup diri. Manusia mungkin bisa hidup tanpa agama, manusia bisa hidup tanpa kekayaan harta benda, tetapi manusia sama sekali tidak bisa hidup tanpa iman, harap, dan kasih sebagai satu kesatuan adequat yang menopang keterbatasn ontologis manusia.

Saya menulis ini ketika selesai menghadiri sebuah perayaan perpisahan seseorang yang baru saya kenal beberapa hari yang lalu. Tentu diupacara itu saya membacakan syair di atas untuknya. Saya tidak mengenalnya secara personal. Kami pun baru beberapa kali bercakap-cakap. Namun, dari kesan kolektif yang timbul, yang tentunya saya amati dari respon teman-teman saya yang lain, orang ini sejatinya punya keterbukaan yang luar biasa terhadap sesama saudaranya yang lain. Dia Muslim, dan sebagian besar sahabatnya (di sini) adalah Katolik. Dia tidak dari Flores, tetapi berbuat banyak bagi warga Maumere, lewat karya profetisnya sebagai dokter, lewat inspirasi dan aksi sosial-karitatifnya dalam komunitas Shoes for Flores, dalam kampanye-kampanye pedagogisnya di Radio Sonia FM, serta dedikasinya yang tulus dalam membangun persahabatan dengan orang-orang di sekitar. Dia akan berpisah secara fisik (pergi dari Maumere), tetapi akan sangat dekat dalam memori dan doa sahabat-sahabatnya di sini

Ini catatan ringan dari saya buat kenangan akan Mario dan juga buat Dokter Indah. Puisi Mario saya kadokan buat perjalanan dokter Indah. Penulisnya sudah mati, syairnya bukan milik dia lagi. Jadi, Bu Dokter Indah tidak perlu sungkan untuk membawa syair ini dalam kehidupan yang selalu menyediakan tantangan tak terduga.

Hidupkan Kearifan Lokal Lewat Seni (Festival Seni Budaya dan Konser Kolaborasi Musik Etnis Kabupaten Sikka 2015)


Kabupaten Sikka kaya akan keanekaragaman etnis dan kultur yang meliputinya. Salah satu keanekaragaman itu diekspresikan lewat seni yang juga menjadi unsur universal sebuah kebudayaan. Demi kembali menggali, memelihara, dan melestarikan berbagai kearifan lokal yang termanifestasi dalam bentuk-bentuk ekspresi kesenian itu, pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka mengadakan suatu program tahunan bertajuk Pentas Seni Budaya Kabupaten Sikka. Pada tahun ini, pemerintah menegaskan kembali spirit ‘Ayo Kerja’ yang mendasari seluruh visi dan misi pembangunan lima tahun di kabupaten ini dalam seluruh perhelatan Festival Seni Budaya dan Konser Kolaborasi Musik Etnis Sikka, 2015.

Festival kali ini melibatkan sedikitnya 28 sanggar seni yang dikelola oleh sekolah-sekolah maupun komunitas-komunitas sanggar yang terbuka untuk umum. Event ini mementaskan berbagai ragam kesenian seperti seni tari, musik kampung (orchestra daerah), permainan rakyat, dan seni sastra (teater, pantun-kleteng latar, latung lawang, naruk I’e sora, drama, dan komedi) serta dibuka pula ruang untuk pameran hasil-hasil kerajinan tangan, kuliner, dan inovasi-inovasi kreatif dari putra-putri daerah. Event yang berlangsung pada tanggal 3 dan 5 September ini didahului dengan pawai alegori dan parade seni (devile) sepanjang jalan dari Gelora Samodor hingga Panggung Pertunjukan Rakyat dan Pusat Jajanan Lokal Daerah, di Jalan El Tari, tempat seluruh pentas seni berlangsung. Pawai dibuka oleh kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sikka dan seluruh perarakan dipimpin oleh drum band dari SDI Wairklau dan SMAK John Paul II Maumere.

Dalam sambutan pembukaan rangkaian acara ini, Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera menegaskan, “Pentas Seni Budaya ini dilakukan agar kita bisa lebih mencintai kebudayaan kita, yang bisa kita pelihara dalam rangka menimba karakter kita dikaitkan dengan arus globalisasi yang semakin luar biasa. Selain itu kita juga bisa memperkenalkan ke beragai pihak bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya, sekaligus menjadi aset untuk menggali minat para wisatawan, baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara”.

Event yang berlangsung selama dua hari ini mendapat atensi yang sangat besar dari masyarakat Kabupaten Sikka. Pameran yang dibuka sepanjang hari berhasil menarik banyak pengunjung. Pentas seni di malam hari pun menjadi hiburan yang disimak oleh begitu banyak orang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Para peserta kongres GMNI XIX Maumere pun menjadi tamu spesial yang diperkenalkan secara langsung oleh Wakil Bupati Nong Susar pada malam kedua dilangsungkannya festival.

Keseluruhan pagelaran ini bersifat non-lomba, tetapi dipilih 6 penampilan terbaik tanpa peringkat dari enam kategori penilaian yang diputuskan oleh tim pengamat yang terdiri dari budayawan, akademisi, dan praktisi seni. Enam yang terpilih sebagai penampil terbaik antara lain, Tarian Nusantara dari Sanggar Munianse (nominasi tata busana terbaik), Tarian Tetok Alu Ier Pare dari Sanggar Kibo Libok Kelurahan Wairotang (nominsai koreografi terbaik), Musik Kolaborasi dari Sanggar Depo Hagong Munerana (nominasi musik pengring terbaik), Musik Tuke Nian Jaga Natar dari grup musik Bunga Nukak (nominasi pemain musik terbaik), Tarian Bebing dari Sanggar Raga Dara Hokor (nominsai tarian tradisional terbaik), dan Ruha Mbaleng Waeng (nominasi tarian garapan terbaik). Para penampil terbaik diberikan penghargaan berupa sejumlah uang tunai di samping uang pembinaan yang diberikan kepada setiap partisipan festival seni.

Mendapat Kunjungan Mendagri


Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo yang berkunjung ke Maumere (5/9), menyempatkan diri singgah untuk melihat-lihat sejenak perhelatan festival dan pameran seni budaya yang diadakan di kompleks Panggung Pertunjukan Rakyat dan Pusat Jajanan Lokal Daerah, di Jalan El Tari. Mendagri bersama rombongannya diterima dan selanjutnya didampingi untuk melihat-lihat oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka, Wilhelmus Sirilus.

Pada kesempatan itu, Mendagri bersama Gubernur NTT Frans Leburaya, dan Andreas Hugo Pareira dipersilahkan menikmati iringan orkes musik kampung sambil mengunjungi beberapa lokasi pameran. Stan pameran yang dikunjungi Mendagri dan rombongan antara lain stan kuliner khas Nusa Tenggara Timur yang menyajikan berbagai masakan bercita rasa Nusa tenggara Timur, stan dari Partners for Resilience Indonesia, stan kerajinan tangan lokal para penyandang cacat, dan stan tenunan tradisional Sikka.

Di stan dari Partners for Resilience Indonesia, Mendagri memperhatikan dengan serius penjelasan mengenai program irigasi dan air bersih bagi masyarakat yang dikelola oleh lembaga swadaya masyarakat tersebut bekerjasama dengan pemerintah daerah. Di beberapa wilayah sasaran seperti desa Bu Utara dan Bu Selatan di Kecamatan Tana Wawo, telah dikembangkan saluran-saluran irigasi yang baik bagi pertanian serta perkebunan sayur-sayuran dan juga program penyulingan air bersih bagi masyarakat.

Mendagri juga mengunjungi stan kerajinan tangan para penyandang cacat, dan melihat hasil-hasil karya mereka. Stan yang dikelola oleh BARA JP (Barisan Jalan Perubahan) ini mengakomodasi para penyandang cacat, orang-orang dengan gangguan mental, dan kaum telantar untuk diberi pelatiah dan pembinaan sesuai kebutuhan dan keterampilan mereka masing-masing. Susilowati, salah satu penggerak lembaga swadaya masyarakat ini memperkenalkan kepada Mendagri karya-karya yang dipamerkan seperti, aneka kuliner, alat-alat terapi alami, pupuk-pupuk organik, berbagai jenis perabot rumah tangga, mebel, hingga lukisan dan kain tenun yang dibuat oleh para penyandang cacat yang dibina di lembaga ini. Kepada Mendagri, Susilowati menjelaskan bahwa lembaga ini bermaksud menggali potensi para penyandang cacat dan dengan begitu mereka bisa mendapat kedudukan profesional yang setara dengan orang-orang normal. Para penyandang cacat ini juga memberikan bingkisan berupa karya-karya mereka kepada Mendagri dan juga Presiden Jokowi yang tidak sempat hadir

Di akhir kunjungan, Mendagri dan rombongan menyempatkan diri mengujungi stan pameran kain tenun tradisional etnis-etnis di Kabupaten Sikka. Mendagri meluangkan waktu sejenak mendengarkan penjelasan singkat dan melihat proses pengolah benang menjadi sarung. Sebagai bentuk apresiasi, Medagri membeli beberapa kain sarung yang diberikan kepada rombongannya.

Mendagri menyambut baik kegiatan seperti ini karena membuka ruang bagi para pengrajin lokal untuk meningkatkan perekonomian secara lebih kraetif. Selain itu, berbagai program seperti irigasi dan penyulingan air bersih, serta pelatihan bagi penyandang cacat dilihat sebagai suatu yang baik dan harus ditingkatkan lagi. Mitra dengan pemerintah daerah adalah hal yang harus terus digalakan demi pembangunan jangka panjang yang lebih bermutu.

Saatnya Sastrawan NTT Terlibat (Catatan Jurnalistik Seputar Festival dan Temu II sastrawan NTT)


Geliat sastra di Nusa Tenggara Timur yang sudah sejak lima tahun terakhir dianggap sangat tampak perkembangannya, mendapat perhatian serius dari Kantor Bahasa Provinsi NTT. Kantor Bahasa NTT yang merupakan UPT dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menciptakan suatu ruang komunikasi di antara para sastrawan dan penulis-penulis sastra pemula. Selain itu, Kantor Bahasa NTT juga berupaya memasyarakatkan sastra NTT (yang selama ini dianggap hidup di dunia privat para sastrawan atau penulis sastra) kepada kalangan luas melalui lembaga-lembaga pendidikan. Ruang komunikasi dan sosialisasi itu dikemas dalam bentuk Festival Sastra dan Temu Sastrawan NTT. Komitmen ini disampaikan oleh M. Luthfi Baihaqi, Kepala Kantor Bahasa NTT di hadapan Wakil Bupati dan Muspida Ende sebagai wakil pemerintah provinsi NTT, para sastrawan dan penikmat sastra, para peserta festival, serta mahasiswa Universitas Flores, pada pembukaan Temu II Sastrawan NTT.

Kegiatan ini telah menjadi agenda tetap dua tahunan sejak pertama kali kegiatan Temu Sastrawan NTT diadakan di Kupang pada tahun 2013. Kegiatan Festival dan Temu II Sastrawan NTT tahun 2015, diadakan di Kota Ende pada tanggal 5-10 Oktober 2015, bekerja sama dengan Universitas Flores.


Festival Sastra NTT


Kegiatan Festival Sastra yang dilaksanakan pada tanggal 5-8 Oktober 2015 dibuka secara resmi dan simbolis oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, M. Luthfi Baihaqi dan Rektor Universitas Flores, Stephanus Djawanai melalui pengguntingan pita dan pembukaan baliho mini di Auditorium Universitas Flores pada Senin, (5/10).

Festival ini melibatkan sejumlah siswa-siswi dan guru dari berbagai lembaga pendidikan tingkat PAUD hingga perguruan tinggi. Secara rinci, festival ini meliputi lomba membaca puisi tingkat SD dengan jumlah peserta sebanyak 43 orang, lomba menulis opini/esai sebanyak 19 orang, lomba bercerita cerita rakyat tingkat SMP sebanyak 30 orang, lomba mendongeng bagi guru PAUD/TKK dan SD sebanyak 5 orang, lomba menulis kritik sastra tingkat perguruan tinggi sebanyak 15 orang, dan lomba musikalisasi puisi dari berbagai sekolah yang diikuti oleh 16 grup musik, serta perlombaan dan pertunjukan majalah dinding kreatif oleh sekolah-sekolah menegah atas yang ada di kabupaten Ende.

Kegiatan non-lomba yang juga dilakukan dalam rangkaian Festival Sastra NTT kali ini meliputi beberapa kelas dan bengkel sastra yang dipandu oleh para sastrawan nasional yang turun dan terlibat langsung bersama para peserta yang umumnya berasal dari Universitas Flores. Bengkel sastra penulisan cerpen diasuh oleh sastrawan kondang asal NTT, Gerson Poyk dan putrinya yang juga seorang cerpenis dan novelis terkemuka Fanny Poyk. Mario F. Lawi, seorang sastrawan muda NTT yang telah banyak menghasilkan karya-karya puisi yang diakui secara luas (nasional) berbagi keahliannya dalam bengkel sastra penulisan puisi. Bengkel sastra penulisan kritik sastra diasuh oleh akademisi sastra dan linguistik asal NTT, Dr. Yoseph Yapi Taum serta kritikus dan sastrawan berpengalaman, AS Laksana yang mengaku sudah jatuh cinta dengan NTT sejak pertama kali hadir di Festival Sastra Santarang 2015, di Kupang.

Rangkaian acara Festival Sastra NTT dilanjutkan dengan bincang-bincang sastra dan peluncuran buku antologi sastrawan NTT. Buku antologi sastrawan NTT itu terdiri dari tiga judul, yaitu Nyanyian Sasando (Antologi Puisi Sastrawan NTT), Cerita dari Selat Gonsalu (Antologi Cerpen Sastrawan NTT), dan Dari Avontur ke Wasiat Kemuhar (Antologi Ulasan Buku Karya Penulis NTT). Peluncuran buku ini ditandai dengan penyerahan buku antologi kepada para sastrawan, akademisi dan narasumber, rektor Unflor, dan segenap peserta Temu II Sastrawan NTT yang hadir.

Marieta B. Larasati, sebagai ketua panitia, dalam penyampaian laporan kegiatan mengapresiasi antusiasme yang tinggi dari berbagai lembaga pendidikan di kota Ende, yang nyata dalam keaktivan mengikuti berbagai festival sastra ini. Pada kesempatan lain, Dr. Yoseph Yapi Taum menjelaskan bahwa dari pengamatannya selama hari-hari perlombaan, sangat terlihat perkembangan yang menarik dalam hal apresiasi sastra di kalangan masyarakat, khususnya di sekolah-sekolah. Meski demikian, ia juga memberi catatan khusus dalam bidang perlombaan kritik sastra, yang menurut pengamatannya masih butuh banyak pendalaman. Atmosfir apresiasi sastra yang baik ini selayaknya dirawat dan ditingkatkan dari hari ke hari.

Temu II Sastrawan NTT

Kegiatan Temu II Sastrawan NTT (8-10 Oktober 2015) dibuka secara resmi oleh pemerintah Provinsi NTT yang diwakili oleh Wakil Bupati Ende, bersama dengan Gerson Poyk, sebagai sesepuh dan tokoh sastra NTT lewat pemukulan gong. Sebelumnya, para sastrawan dan segenap peserta Temu II Sastrawan NTT diterima oleh pemerintah daerah, dan selanjutnya oleh keluarga besar Universitas Flores, dalam seremoni adat Lio.

Kegiatan diawali oleh sambutan dari berbagai pihak, salah satunya sambutan Gubernur NTT yang dibacakan oleh Wakil Bupati Ende. Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan kepada pemerintah dan Universitas Flores oleh Kantor Bahasa NTT atas kerjasama dalam berbagai kegiatan pengembangan sastra NTT. Diberikan pula penghargaan kepada Gerson Poyk sebagai Tokoh Sastra NTT 2015. Gerson Poyk dinobatkan sebagai perintis sastra dan sastrawan NTT modern oleh karena karya perdananya yang terbit pada 1961 ‘membuka jalan’ bagi sastrawan lain asal NTT selanjutnya, hingga saat ini. Selain itu, tanggal 16 Juni (tanggal kelahiran Gerson Poyk) ditetapkan sebagai Hari Sastra NTT. Pada kesempatan ini pula, diadakan penyerahan hadiah kepada para pemenang berbagai kategori lomba pada Festival Sastra NTT 2015. Selanjutnya, rangkain kegiatan Temu II Sastrawan NTT meliputi seminar dan diskusi, safari sastra (penulisan puisi bertema ‘Ende dalam Kebersamaan’), serta penetapan rekomendasi serta putusan hasil Temu II Sastrawan dan Malam Pembacaan Puisi bersama sastrawan NTT.

Kegiatan seminar dan diskusi (9/10) di Aula Unflor berlangsung dalam dua sesi. Seminar I membahas tiga tema, antara lain Sastra sebagai Penumbuh Budi Pekerti dan Pendukung Gerakan Literasi Indonesia oleh Drs. I Wayan Tama, M.Hum – Kepala Balai Bahasa Provinsi Bali, Sastra sebagai Pendukung Pendidikan Karakter Masyarakat NTT oleh Prof. Stefanus Djawanai, Ph. D – Rektor Unflor, serta Sastra dan Media: Mendorong Karya Sastra NTT Lebih Go-Media oleh Hermien Y. Kleden, jurnalis Tempo Media Group.
Hermien Y. Kleden dalam kapasitasnya sebagai jurnalis memberikan apresiasi kepada sastrawan NTT yang karya-karyanya mulai berbicara di pentas sastra nasional. Hermien Y. Kleden menyoroti penulis-penulis muda NTT antara lain Mario F. Lawi dan Anastasia Fransiska Eka.

Mario F. Lawi telah menulis buku-buku kumpulan puisi antara lain, Memoria (IBC, 2013), Ekaristi (PlotPoint, 2014), dan Lelaki Bukan Malaikat (GPU, 2015). Buku pertama dipilih sebagai salah satu Buku Puisi Rekomendasi Tempo 2013. Setahun kemudian, buku kedua terpilih sebagai Buku Puisi Pilihan sekaligus membuatnya dinobatkan Tokoh Seni (Sastra) 2014 oleh majalah yang sama. Sedangkan Anastasia Fransiska Eka dianggap memiliki visi perjuangan feminis dalam karya-karya cerpennya. Hermien Y. Kleden yakin bahwa masyarakat NTT secara kolektif memiliki tradisi berbahasa Indonesia yang baik, dimulai dari keluarga, dan didukung pula oleh tradisi pendidikan katolik yang tertanam kuat di bumi NTT. Bagi Hermin, sejauh ini seminari-seminari menjadi lumbug-lumbung penulis dan sastrawan NTT, dan asumsi ini didukung oleh data yang disampaikan Dr. Yoseph Yapi Taum, bahwa lebih dari 70% penulis sastra di NTT sekurang-kurangnya pernah mengenyam pendidikan seminari.

Seminar II yang berlangsung lebih menarik membahas tiga tema antara lain, Karya Sastra dan Tanggungjawab Sosial: Wacana Kritis Merespon Masalah Sosial Budaya dalam Masyarakat NTT disajikan oleh Dr Yoseph Yapi Taum – Dosen dan Peneliti dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Sastra Digital sebagai Media Alternatif: Batasan, Prospek, dan Komunitas Pendukungnya oleh Samsul Hari - Pengajar Sastra Digital, dan Perkembangan Sastra Mutakhir Indonesia oleh Narudin Pituin -sastrawan, penerjemah, dan kritikus sastra.

Dr. Yoseph Yapi Taum membahas pentingnya peran sastrawan lewat karya-karya mereka bagi pendidikan sosial masyarakat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dr. Yapi Taum memaparkan contoh dan menekankan beberapa poin penting yang diambil dari disertasi doktoralnya, mengenai bagaimana tragedi 1965 terrepresentasi dalam karya-karya sastra masa itu. Menurut Dr. Yapi Taum, sudah selayaknya sastrawan NTT mengambil bagian dalam kampanye-kampanye sosial menanggapi berbagai masalah sosial seperti kemiskinan, perdagangan orang, hingga rekonsiliasi tragedi 1965 di wilayah NTT yang juga menjadi wacana nasional.

Rekomendasi dan Putusan

Temu II Sastrawan NTT menghasilkan beberapa rekomendasi dan putusan penting. Beberapa putusan itu menyangkut komitmen bersama dalam upaya memperkenalkan sastra NTT lewat berbagai promosi, pembiayaan, pendidikan, dan pengembangan untuk berbagai event di tingkat nasional serta internasional, sebagai bahan pembelajaran di sekolah-sekolah, pengembangan komunitas sastra dalam rangka sosialisasi dan beberapa hal teknis lain.

Kepada awak media, Dr. Yoseph Yapi Taum mewakili segenap sastrawan NTT juga menyampaikan kekecewaan kepada pemerintah Provinsi NTT yang kurang memberikan perhatian dan berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan Festival dan Temu II Sastrawan NTT. Menanggapi hal ini, diajaukan suatu rekomendasi kepada pemerintah dan masayarakat untuk turut dalam pengembangan kesusastraan dan menjamin kebebasan berekspresi para sastrawan.

Kantor Bahasa NTT juga menjalin kontrak kerjasama selama lima tahun dengan Universitas Flores, yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh M. Luthfi Baihaqi Kepala Kantor Bahasa NTT dan Prof Stefanus Djawanai, Ph. D – Rektor Unflor. Kerja sama itu meliputi program literasi masyarakat NTT, dokumentasi bahasa dan sastra lisan daerah, berbagai penelitian linguistik serta berbagai program menyangkut pembinaan dan pengembangan bahasa. Rangkaian kegiatan Festival dan Temu II Sastrawan NTT ditutup dengan acara makan malam dan pentas puisi bersama, yang melibatkan para sastrawan NTT, beberapa pelajar, mahasiswa Unflor, para pegiat di komunitas Sastra Rakyat Ende (SARE), dan peminat sastra di seputar kota Ende.


‘Si Kulit Bundar’ di Bumi Nian Tana (Catatan Seputar El Tari Memorial Cup XXVII-2015)



Di tengah kisruh PSSI yang mengguncang persepakbolaan nasional, masyarakat pegiat, pencinta, dan penikmat sepak bola NTT kembali dihibur dengan perhelatan akbar sarat tradisi bertajuk El Tari Memorial Cup. Salah satu turnamen sepak bola yang menjadi barometer perkembangan sepak bola Nusa Tenggara Timur ini diadakan untuk ke 27 kalinya pada tahun 2015. Kabupaten Sikka, dalam hal ini KONI Sikka, PSSI Cabang Sikka, dan pemerintah daerah dipercayakan sebagai penyelenggara turnamen yang kini menjadi event olahraga dua tahunan dan selalu mendapat atensi luas dari masayarakat NTT. Terhitung sejak tanggal 20 Oktober-13 November 2015, bumi Nian Tana menjadi saksi pertarungan memainkan si kulit bundar, penuh gensi dan ambisi, dari tujuhbelas kesebelasan kabupaten dan kota yang ada di Provinsi NTT.

Geliat ETMC XXVII


ETMC XXVII di Maumere diikuti oleh tujuhbelas tim sepak bola se-Nusa Tenggara Timur, dengan rincian 389 atlet dan 94 orang manejer/pelatih/official. Jika ditambah dengan 26 wasit yang memimpin jalannya pertandingan-pertandingan selama turnamen ini, maka jumah peserta formal menjadi 483 orang. Sebanyak 70 pertandingan diadakan di stadion tunggal Gelora Samador, Maumere. Hanya 5 Kabupaten yang tidak bisa terlibat dalam ETMC kali ini, yaitu Sabu Raijua, Sumba Barat, Sumba Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Belu.

Tujuh belas tim yang ikut terbagi dalam empat pool yaitu:
Pool 1 : Sikka, Sumba Barat Daya, Ende, Manggarai Timur, Sumba Timur
Pool 2 : Malaka, Manggarai, TTU dan Kupang
Pool 3 : Lembata, Alor, Flotim dan Kupang Kota
Pool 4 : Ngada, Nagekeo, Rote Ndao dan Manggarai Barat.

Pertarungan memainkan si kulit bundar pada ETMC kali ini semakin menarik karena para pecinta sepak bola dapat melihat aksi beberapa punggawa Indonesia Super Liga (ISL) dan Tim Nasional Indonesia seperti Heru Nerly (PSN Ngada), Korinus Fingkreuw (Perse Ende), dan Yabes Rony Malaifani (Persap Alor), serta pemain-pemain lain yang didatangkan dariluar NTT, juga para pemain keturunan NTT yang mengikuti training dengan klub-klub nasional seperti Andreas Ado (Persami), atau beberapa pemain PSK Kupanng yang terpilih dalam seleksi Bali United.

Sejak babak penyisihan, atmosfir kompetisi sarat gensi dan tradisi terasa sangat kental. Di pertandingan pembukaan (20/10) tuan rumah Persami-Maumere yang berhadapan dengan Persedaya Sumba Barat Daya dipaksa menerima kekalahan. Anak-anak asuhan Fredy MBW yang turun ke lapangan dengan tekanan yang tinggi dari suporter tidak dapat memainkan bola dengan lugas, dan akhirnya kalah dengan skor 1-2. Persaingan di Pool I pun harus berlangsung sampai pertandingan-pertandingan terakhir dengan selisih peralihan poin yang ketat antara masing-masing tim. Setelah kekalahan perdananya, Persami akhirnya bangkit dengan mengalahkan lawan-lawan selanjutnya dan manjuarai Pool I. Persami bahkan mencetak rekor cleen sheet sebanyak 5 pertandingan berturut-turut sebelum kebobolan lagi di babak final. Kabupten Ende menemani tuan rumah sebagai runner up, itu pun sebagai konsekuensi dari kekalahan Persedaya Sumba Barat daya atas Persematim-Manggarai Timur di laga terakhir mereka. Ende lolos dengan mengumpulkan poin 7 dibuntuti Persedaya dengan Poin 5.

Di Pool II, Persemal Malaka yang sejauh ini menjadi anak bungsu di provinsi Nusa Tenggara Timur membuat kejutan dengan tampil sebagai juara pool dengan mengantongi poin 7, hasil sekali seri dan dua kali menang. Goyang tebe meramairiahkan lapangan Gelora Samador da Cunha, usai tim ini mengalahkan PS Kabupaten Kupang dengan skor 3-0 dan memastikan diri lolos ke putaran kedua. Tim lain yang menemani Malaka ke putaran kedua adalah TTU yang mengantongi poin 6, hasil dua kali kemenangan, masing-masing melawan PS Kabupaten Kupang dan Persim Manggarai.

PSK Kota Kupang yang menjadi runner up Liga Desa 2015 di Belitung berhasil memimpin perolehan nilai di pool III yang disebut-sebut sebagai ‘Pool Neraka’. PSK berhasil menghempaskan perlawanan tiga tim kuat lain, Persebata Lembata, Perseftim Flores Timur, serta Persap Alor, dan meraih poin penuh 9. Perseftim yang dianggap tampil di bawah performa terbaiknya pada ETMC kali ini juga berhasil lolos ke babak selanjutnya setelah meraih dua kemenangan. Yabes, punggawa Timnas U-19 tidak mampu membawa Persap Alor ke prestasi yang lebih tinggi, meskipun pasukan-pasukan muda dari tim ini menampilkan tontonan yang atraktif selama penyisihan.

PSN Ngada yang selalu tampil superior membuktikan diri sebagai raksasa sepakbola setelah berhasil keluar sebagai juara pool IV. PSN Ngada berhasil mncetak 9 gol dari dua kemenangan dan sekali seri ketika menghadapi juara bertahan Persamba Manggarai Barat. Pertandingan antara PSN melawan Persamba berlangsung tegang dan sedikit ricuh, padahal kedua tim yang bertemu pada laga terakhir pool ini sudah memastikan diri lolos ke babak selanjutnya. Hal ini menunjukkan tensi dan gensi yang tinggi dari perhelatan ETMC. Persamba sendiri lolos ke babak selanjutnya setelah mengumpulkan poin 5, meyisihkan tim kuat lain, Persena Nagekeo yang tampil buruk.

Di putaran selanjutnya Persami Maumere berhasil melangkah ke semifinal setelah mengatasi perlawanan anak-anak Nagi dengan skor 2-0. Persami berjumpa dengan Persemal Malaka yang secara mengejutkan mengalahkan juara bertahan Persamba Manggarai Barat lewat drama adu penalti yang menegangkan. Persemal menang 4-3. PSN Ngada tanpa kesulitan melaju ke semifinal setelah menang 3-0 dengan TTU, dan berhadapan dengan Perse Ende yang melalui pertandingan berat dengan PSK Kota Kupang. Perse menang adu penalti 4-3 setelah pada waktu normal di tambah perpanjangan waktu, kedua tim berbagi angka 0-0. Di semifinal, goyang Tebe anak-anak Malaka dihentikan oleh Laskar Nian Tana dengan skor 2-0. Di pertandingan lain, superioritas PSN dengan pola permainan kick and rush dipatahkan oleh permainan tiki-taka mengandalkan kecepatan dan keakuratan dari Perse Ende. Ende menang tipis 1-0. Persami dan Perse berjumpa di final. PSN yang diasuh oleh legenda tim ini, Jhoni Dopo harus puas berada di tempat ketiga setelah mengalahkan Malaka dengan skor tipis 2-1, dalam pertandingan 90 menit yang sangat atraktif sekaligus menegangkan.


Penantian 31 Tahun Persami Tertuntaskan

Gensi, ambisi, dan rivalitas Persami dan Perse yang berlaga di babak final sangat kental terasa dan mempengaruhi atmosfer pertandingan. Ketegangan sudah dimulai sejak pertandingan belum dilangsungkan, nyata dari rivalitas supporter yang memadati Stadion Gelora Samador Maumere. Persami Mania yang sejak kekalahan Persami di laga pembuka terus mendukung tim kesayangan dengan berbagai yel-yel, spanduk, nyanyian, serta aksesoris, ditantang oleh ribuan supporter Perse yang datang jauh-jauh dalam bentuk rombongan dan dilepaskan secara resmi oleh pemerintah daerah. Sebanyak ribuan penonton hadir di Maumere yang menyebabkan arus lalu lintas di seputran stadion Gelora Samador terganggu selama beberapa saat.

Dahaga Persami Maumere yang tertahankan selama 31 tahun, setelah terakhir menjuarai ETMC pada tahun 1984 akhirnya terpuaskan setelah Laskar Nian Tana berhasil mengalahkan Laskar Kelimutu dalam 90 dengan skor tipis 2-1. Pertandingan berlangsung sangat panas dan beberapa kali harus dihentikan akibat kericuhan yang terjadi. Permainan atraktif namun keras dipertontonkan oleh kedua tim. Ende lebih dahulu mencetak gol di menit ke-16 setelah Muhammad Sidik Saimima dijatuhkan di dalam kotak pinalti. Wasit Antonius Rismiadji pun menunjuk titik putih. Terjadi protes oleh beberapa pemain Persami yang mengakibatkan kericuhan kecil dan berbuah beberapa kartu kuning dari wasit. Yoga Ramadhan yang mengeksekusi penalty tersebut dengan tenang menuntaskan rekor cleen sheet Timmy, kipper Persami. Persami baru bisa mengejar ketertinggalan di menit ke 35, setelah Iqbal Al Fadihla mencetak gol memanfaatkan kelengahan pertahanan tim Perse. Gol ini sempat mendapat protes tim Perse, karena banyak pemain Perse maupun Persami masih berkonsentrasi dengan pelanggaran yang sebelumnya terjadi, tetapi wasit tetap mensahkan gol ini. Gol pamungkas dari Persami datang dari tendangan bebas jarak jauh yang dieksekusi oleh Vian Watu. Tendangan keras melengkung dan terarah dari Vian merobek jala Perse dan memecahkan ketegangan penonton di Gelora Samador. Perse malakukan serang bertubi-tubi ke gawang Persami pada sisa pertandingan. Persami hanya sesekali melakukan serangan balik cepat ke gawang Perse. Persami akhirnya keluar sebagai juara bertahan ketika wasit meniupkan peluit panjang di babak kedua setelah terlebih dahulu mendapat tambahan waktu 2 menit.

Keluar sebagai juara, Persami berhak meraih piala bergilir El Tari Memorial Cup, Piala tetap dan mendapat hadiah uang pembinaan sebesar 105 juta rupiah. Perse yang menjadi runner up mendapat hadiah sebanyak 67,5 juta rupiah dan PSN Ngada sebagai juara ketiga mendapatkan hadiah uang sebesar 47,5 juta rupiah. Sementara itu, tim underdog Persemal Malaka yang menempati peringkat ke empat berhak atas uang tunai sejumlah 30 juta rupiah. Di samping hadiah bagi para juara, panita juga memberi pengharhaan dalam beberapa kategori lainnya. Gelar pemain terbaik sepanjang ETMC diberkan kepada Andreas Ado (Persami). Pemain berusia 19 tahun ini tampil konsisten dan memberi kontribusi berharga bagi tim dengan mencetak 5 gol dan beberapa di antaranya menjadi penentu kemenangan tim. Andre berhak atas uang senilai 10 juta rupiah. Top scorer diraih duet maut lini depan PSN Ngada, Yoris Nono dan Okta Pone, Keduanya sama-sama mengoleksi 7 gol dari enam pertandingan yang dilakoni tim PSN dan berhak atas uang masing-masing senilai 5 juta rupiah. Kategori lain yang dinilai panitia adalah tim fair play yang dianugerhakan kepada Manggarai Barat, sehingga mereka berhak atas uang senilai 10 juta rupiah.

Kemenangan Persami menjadi kado spesial bagi Persami Mania yang dukungannya menjadi warna baru dalam sejarah perhelatan ETMC. Selain itu, ETMC XXVII menjadi perhelatan dengan penonton terbanyak serta turnamen dengan nilai total hadiah terbesar sepanjang sejarah. Pembukaan ETMC menjadi semarak karena diwarnai oleh penampilan 1000 penari Gemu Fa mi Re, dari berbagai sanggar seni dan sekolah di Sikka. Namun disamping itu, masih banyak juga evaluasi atas penyelenggaraan turnamen ini, di antaranya soal pengaturan pembatasan pemain dari luar NTT, kinerja wasit dan penyelenggara pertandingan yang dinilai masih perlu ditingkatkan, dan juga akses serta pelayanan publik yang harus diperbaiki oleh panitia penyelenggara pada perhelatan-perhelatan selanjutnya. ETMC XVVIII akan dilaksanakan pada tahun 2017 dengan Ende sebagai tuan rumah penyelenggara.

Catatan Kilas Balik EL Tari Memorial Cup (ETMC)

El Tari Memoial Cup pada dasarnya merupakan suatu turnamen yang dimaksudkan untuk menjalin tali silahturami persaudaraan antar kabupaten dan kota di provinsi NTT, lewat media olahraga, khususnya sepak bola. Turnamen ini pada mulanya bercikal-bakal pada El Tari Cup yang digagas oleh salah satu mantan gubernur kharismatik provinsi NTT, El Tari (menjabat pada periode 1966-1978). Turnamen El Tari Cup pertama kali digelar di Kupang pada tahun 1969. Perseftim Flores Timur, keluar sebagai juara pada perhelatan perdana event ini. Selanjutnya, perhelatan El Tari Cup dilaksanakan sebanyak tiga kali lagi, yaitu pada tahun 1970, 1972, 1976, dengan masing-masing turnamaen menghasilkan juara-juara baru antara lain PSN Ngada, PSK Kupang (saat itu kota dan kabupaten masih bergabung), dan Persami Maumere. Setahun setelah wafatnya Gubernur El Tari, tepatnya tahun 1978, turnamen El Tari Cup, diganti namanya menjadi El Tari Memorial Cup (ETMC). Turnamen El Tari Memorial Cup didedikasikan khusus untuk menghidupkan selalu semangat yang telah ditanamkan Gubernur El Tari dalam membina persaudaraan antar kabupaten dan kota, sekaligus menjadikan ajang ini sebagai ajang peningkatan dan pengembangan pembangunan khusunya dalam hal prestasi sepak bola Nusa Tenggara Timur.

Sejak awal perhelatan ETMC tahun 1979 hingga saat ini, hanya tiga tim dari daratan Flores-Lembata yang belum mencatatkan namanya sebagai juara, yaitu tiga kabupaten baru Persematim (Manggarai Timur), Persena (Nagekeo) dan Persebata (Lembata). PSN Ngada menjadi tim raksasa, terbukti dengan enam gelar yang berhasil diperolehnya, masing-masing pada tahun 1982, 1986, 1997, 2001, 2003, 2007. Tim lain dari Flores yang berhasil meraih gelar juara antara lain Persami-Maumere (1984,2015), Perse-Ende (1999), Persim-Manggarai Tengah (2005), Perseftim-Flores Timur (2009), dan Persamba Manggarai Barat, sebagai juara bertahan ETMC XXVI, 2013.

Dari daratan Timor, PS Kota Kupang menjadi tim yang mendominasi perolehan gelar juara ETMC. Sebanyak tujuh gelar juara telah dipersembahkan kesebelasan kota karang ini bagi para pencintanya, yaitu sejak pertama kali turnamen ini berubah nama tahun 1979, dan selanjutnya 1988, 1991, 1993, 1995, 2002, dan 2010). PSK Kota Kupang menjadi satu-satunya tim yang berhasil mempertahankan gelar juara selama empat perhelatan berturut-turut, dan mentahtakan hampir sebelas tahun piala ETMC di kota karang, yaitu sejak tahun 1988 hingga PSN merebut kembali gelar itu tahun 1997. Sejak berpisah dengan PSK Kota Kupang tahun 1995, PS Kabupaten Kupang belum sekalipun menunjukkan prestasi yang gemilang, Kekuatan baru dari wilayah Timor yang muncul pada periode 2000-an adalah Perss-Soe yang meraih gelar juara pada perhelatan ETMC XV tahun 2000.
Persap-Alor, satu-satunya wakil dari Pulau Alor baru menunjukan kelasnya sebagai tim yang mampu menjegal tim-tim kuat sejak perhelatan ETMC tahun 2001. Selanjutnya, Persap selalu tampil konsisten sehingga dengan amunisi-amunisi mudanya, tim ini menjuarai ETMC tahun 2006. Pada periode 1970an-1990an, dua tim dari Sumba yaitu Persewa Waingapu dan Persesba Waikabubak selalu menjadi lumbung gol tim-tim lawan. Sama seperti Persap Alor, kebangkitan sepakbola Sumba baru terlihat di awal tahun 2000. Sejauh ini tim dari dataran Sumba baru dua kali menjuarai ETMC, yaitu Persewa-Waingapu pada tahun 2004 dan Persedaya-Sumba Barat Daya tahun 2011.